Laman

rebo wekasan

Setiap Rabu terakhir bulan Shafar, sebagian besar kaum Muslimin Nusantara melakukan shalat sunnah memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai malapetaka. Hal ini didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam kitabMujarrabat al-Dairabi al-Kabiryang berbunyi begini:
“Sebagian orang-orang yang ma’rifat kepada Allah menyebutkan, bahwa dalam setiap tahun akan turun tiga ratus dua puluh ribu malapetaka, semuanya terjadi pada Rabu terakhir bulan Shafar, sehingga hari tersebut menjadi hari tersulit dalam hari-hari tahun itu. Barangsiapa yang menunaikan shalat pada hari itu sebanyak 4 raka’at, dalam setiap raka’at membaca al-Fatihah 1 kali, Surat al-Kautsar 17 kali, surat al-Ikhlash 15 kali dan mu’awwidzatayn 1 kali, lalu berdoa dengan doa berikut ini, maka Allah akan menjaganya dari semua malapetaka yang turun pada hari tersebut.”

Hari Rabu yang disebutkan dalam keterangan di atas disebut dengan Rebo Wekasan. Persoalannya, sejauh manakah legitimasi agama, atau pengakuan agama Islam terhadap Rebo Wekasan seperti dalam keterangan KitabMujarrabat al-Dairabi al-Kabir di atas? Menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang perlu kita bahasa.
Pertama, pernyataan sebagian orang-orang yang ma’rifat tersebut, atau dalam kata lain sebagian waliyullah (kekasih Allah), dalam kacamata agama disebut dengan ilham. Para ulama ushul fiqih mendefinisikan ilham dengan, pikiran hati yang datang dari Allah. Berkaitan dengan hal ini, Syaikh Ibnu Taimiyah, ulama panutan utama kaum Wahabi berkata dalam al-‘Aqidah al-Wasithiyyah:
ومن أصول أهل السنة : التصديق بكرامات الأولياء وما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات
“Di antara prinsip Ahlussunnah adalah mempercayai karamah para wali dan apa yang dijalankan oleh Allah melalui tangan-tangan mereka berupa perkara yang menyalahi adat dalam berbagai macam ilmu pengetahuan dan mukasyafah.”
Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah di atas, mengharuskan kita mengakui adanya berbagai macam ilmu pengetahuan dan mukasyafah yang diberikan oleh Allah kepada para wali. Dengan demikian, dalam perspektif agama, ilhammaupun mukasyafah sebagian wali Allah di atas tentang berbagai macam malapetaka yang diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, menemukan legitimasinya dalam akidah Islam.
Kedua, mayoritas ulama berpendapat bahwa ilham tidak dapat menjadi dasar hukum Islam (wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram). Ilham yang dikemukakan dalam Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir di atas, tidak dalam rangka menghukumi sesuatu dalam perspektif Islam. Ilham di atas hanya informasi perkara ghaib tentang turunnya malapetaka pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Dengan demikian, ilham tersebut tidak berkaitan dengan hukum, tetapi berkaitan dengan informasi perkara ghaib yang biasa terjadi kepada para wali Allah, seperti dikemukakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah di atas.
Ketiga, dalam ilmu tashawuf, ilham maupun mukasyafah seorang wali tidak boleh dipercaya dan diamalkan, sebelum dikomparasikan dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah. Apabila ilham dan mukasyafah tersebut sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka dipastikan benar. Akan tetapi apabila ilham dan mukasyafah tersebut bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka itu jelas salah dan harus ditinggalkan jauh-jauh. Kaitannya dengan ilham atau mukasyafah Rebo Wekasan yang diterangkan dalam Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir di atas, ada dasar yang menguatkannya. Rasulullah saw bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي. (الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي، الجامع الصغير في أحاديث البشير النذير، ١/٤، والحافظ أحمد بن الصديق الغماري، المداوي لعلل الجامع الصغير وشرحي المناوي، ١/۲٣).
“Dari Ibn Abbas RA, Nabi SAW bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial terus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam al-Tafsir dan al-Khathib al-Baghdadi. (Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).
Hadits di atas kedudukannya dha’if (lemah). Tetapi meskipun hadits tersebut lemah, posisinya tidak dalam menjelaskan suatu hukum, tetapi berkaitan dengan bab targhib dan tarhib (anjuran dan peringatan), yang disepakati otoritasnya di kalangan ahli hadits sejak generasi salaf. Ingat, bahwa yang menolak otoritas hadits dha’if secara mutlak, bukan ulama ahli hadits, akan tetapi kaum Wahabi abad modern yang dipelopori oleh Syaikh al-Albani.
Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa hari Rabu terakhir dalam setiap bulan adalah hari datangnya sial terus.
Keempat, berkaitan dengan bulan Shafar, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya sebagai berikut ini:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam menafsirkan kalimat “walaa shafar” dalam hadits di atas, al-Imam al-Hafizh al-Hujjah Ibn Rajab al-Hanbali, ulama salafi dan murid terbaik Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata sebagai berikut:
أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَسْتَشْئِمُوْنَ بِصَفَر وَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّهُ شَهْرٌ مَشْئُوْمٌ، فَأَبْطَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَلِكَ، وَهَذَا حَكَاهُ أَبُوْ دَاوُودَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَاشِدٍ الْمَكْحُوْلِيِّ عَمَّنْ سَمِعَهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ، وَلَعَلَّ هَذَا الْقَوْلَ أَشْبَهُ اْلأَقْوَالِ، وَ كَثِيْرٌ مِنَ الْجُهَّالِ يَتَشَاءَمُ بِصَفَر، وَ رُبَّمَا يَنْهَى عَنِ السَّفَرِ فِيْهِ، وَ التَّشَاؤُمُ بِصَفَر هُوَ مِنْ جِنْسِ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا. (الإمام الحافظ الحجة زين الدين ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص/١٤٨).
“Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar. Mereka berkata, Shafar adalah bulan sial. Maka Nabi SAW membatalkan hal tersebut. Pendapat ini diceritakan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya berpendapat demikian. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini adanya pertanda buruk) yang dilarang.” (Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).
Kelima, dalam hadits sebelumnya dinyatakan bahwa, Rabu terakhir setiap bulan adalah hari datangnya sial. Sementara dalam hadits berikutnya, membatalkan tradisi Jahiliyah yang merasa memperoleh ketidakberuntungan pada bulan Shafar. Dari sini, Rabu terakhir di bulan Shafar disebut dengan Rebo Wekasan. Hal ini agaknya melegitimasi ilham atau mukasyafah sebagian wali Allah di atas tentang turunnya berbagai malapetaka di bulan Shafar.
Keenam, terkait dengan amaliah shalat 4 rakaat di atas bagaimana posisi hukumnya? Secara fiqih, shalat tersebut tidak mungkin dikatakan sebagai Shalat Sunnat Rebo Wekasan, karena dalilnya tidak ada. Tetapi melakukan shalat tersebut, tentunya boleh-boleh saja, dengan harapan terhindari dari berbagai malapetaka. Dalam konteks ini al-Imam al-Hafizh al-Hujjah Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali, ulama salafi dan murid terbaik Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata dalam kitabnya, Lathaif al-Ma’arif:
وَالْبَحْثُ عَنْ أَسْبَابِ الشَّرِّ مِنَ النَّظَرِ فِي النُّجُوْمِ وَنَحْوِهَا مِنَ الطِّيَرَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا، وَالْبَاحِثُوْنَ عَنْ ذَلِكَ غَالِبًا لَا يَشْتَغِلُوْنَ بِمَا يَدْفَعُ الْبَلَاءَ مِنَ الطَّاعَاتِ، بَلْ يَأْمُرُوْنَ بِلُزُوْمِ الْمَنْزِلِ وَتَرْكِ الْحَرَكَةِ، وَهَذَا لاَ يَمْنَعُ نُفُوْذَ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْتَغِلُ بِالْمَعَاصِيْ، وَهَذَا مِمَّا يُقَوِّيْ وُقُوْعَ الْبَلاَءِ وَنُفُوْذَهُ، وَالَّذِيْ جَاءَتْ بِهِ الشَّرِيْعَةُ هُوَ تَرْكُ الْبَحْثِ عَنْ ذَلِكَ وَاْلإِعْرَاضُ عَنْهُ وَاْلإِشْتِغَالُ بِمَا يَدْفَعُ الْبَلاَءَ مِنَ الدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالصَّدَقَةِ وَتَحْقِيْقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاْلإِيْمَانِ بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ. (الإمام الحافظ الحجة زين الدين ابن رجب الحنبلي، لطائف المعارف، ص/١٤٣).

“Meneliti sebab-sebab keburukan seperti melihat perbintangan dan semacamnya termasuk thiyarah yang dilarang. Orang-orang yang meneliti hal tersebut biasanya tidak menyibukkan diri dengan amal-amal baik yang dapat menolak balak, bahkan mereka memerintahkan agar tidak meninggalkan rumah dan tidak bekerja. Ini jelas tidak mencegah terjadinya keputusan dan ketentuan Allah. Di antara mereka ada yang menyibukkan dirinya dengan perbuatan maksiat. Hal ini jelas memperkuat terjadinya malapetaka. Ajaran yang dibawa oleh syari’at adalah tidak meneliti hal tersebut, berpaling darinya, dan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat menolak balak seperti berdoa, berdzikir, bersedekah, memantapkan tawakal kepada Allah SWT dan beriman kepada keputusan dan ketentuan Allah SWT.” (Ibn Rajab, Lathaif al-Ma’arif, hal. 143). Wallahu a’lam. (Muhammad Idrus Ramli)





read more

KAUM SALAFI/WAHABI PENGECUT DAN BODOH SEPERTI UDANG

heran!sungguh saya heran,akal pikiran orang wahabi itu ada dimana?
mahrus ali mantan kyai nu mengharamkan udang,katanya karna kotoran udang itu ada dikepalanya,campur/bercampur dengan otaknya,tapi saya heran,kenapa dia dan habitatnya tidak sadar,bahwa kotoran mereka sendiri juga bercampur dengan otak mereka,sehingga tidak bisa melihat kebenaran dan selalu mengkafirkan orang muslim?!
kalau mengenai hukum udang sih jelas boleh,wong namanya hewan dilaut itu semua halal,jadi hal itu tidak perlu dibahas,anda buka kitab kitab fiqh semua ada kok.
yang perlu dipertanyakan ini memang bukan mengenai udang itu sendiri,tapi keadaan mereka yang lebih parah dengan udang.
suatu bukti yang sangat nyata kalau mereka lebih parah dari udang adalah,kepengecutan mereka.
semua situs wahabi,ustadz ustadz wahabi sudah saya kunjungi,saya ajak berhujjah disini,saya meminta mereka menjawab pertanyaan pertanyaan saya yang saya posting di artikel yang berjudul pertanyaan saya kepada mantan kyai nu namun sampai saat ini mantan kyai nu dan wahabi beserta semua habitatnya tidak ada satupun yang nongol!
anda tahu kenapa?
karna mereka lebih pengecut daripada udang yang apabila hendak ditangkap lari kebelakang.
otak mereka hanya penuh dengan kotoran dan kesombongan,hidup mereka hanya disibukkan oleh pengkafiran makanya tidak ada rasa malu didiri mereka,padahal malu itu sebagian dari iman.
jadi dengan sangat bangga saya menjuluki kaum salafi/wahabi dengan julukan kaum udang.
andalah saksi pemberian julukan ini bagi mereka SELURUHNYA!



mudah mudahan allah swt selalu memberikan saya hidayah,dan mudah mudahan allah menyelamatkan saya dan semua keturunan saya dari kejelekan setan dan kaum wahabi beserta faham faham sesat mereka aamiin...
KAUM SALAFI/WAHABI PENGECUT DAN BODOH SEPERTI UDANG
<a href="http://mahrusaligpl.blogspot.com/2012/05/kaum-salafiwahabi-pengecut-dan-bodoh.html" target="_blank">KAUM SALAFI/WAHABI PENGECUT DAN BODOH SEPERTI UDANG</a>
read more

wahabi itu maling wahabi itu sesat

orang wahabi itu bukan hanya sesat dan pengecut baik didunia nyata maupun didunia maya,namun orang wahabi itu juga seperti maling.
kenapa bisa dikatakan seperti maling?
1. orang wahabi mengintai i'tiqadiyah kaum islam ahlus sunnah wal jama'ah (sunni) dan apabila mereka (sunni) lengah maka kaum wahabi mengambil i'tiqadiyah mereka.
2. orang wahabi tidak berani mengakui bahwaa dirinya adalah wahabi.
lain dengan orang islam ahlus sunnah waljam'ah (sunni) mereka dengan bangga mengatakan "saya islam sunni"
kenyataan ini bukan hanya berlaku didunia nyata saja,ternyata didunia maya orang wahabi juga tidak berani mengakui bahwa dirinya adalah wahabi.
anda tahu malingkan?maling akan lari kalau kita memanggilnya dengan sebutan maling.
itulah wahabi,2 sifat ini benar benar dimiliki oleh kaum wahabi,dan hal itu sudah sangat jelas menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yang salah alias SESAT!
maka dari itu jahuilah wahabi dan faham faham sesatnya!
jangan sekali kali mendekati mereka agar anda selamat dari adzab allah swt.

read more

kesesatan mantan kyai nu dan wahabi

dibawah ini adalah artikel yang menjelaskan kesalahan mantan kyai nu yang sekian kalinya
artikel ini diambil dari website sarkub

Dalam kitab al-Ruh karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (ulama rujukan wahabi) terdapat beberapa kisah yang mengindikasikan bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberikan manfaat terhadap orang yang masih hidup. Tentunya hal ini sangat berseberangan dengan keyakinan kaum Wahabi pada umumnya, termasuk juga Mahrus Ali. Dan ketika argumen-argumen ini disodorkan kepada Mahrus Ali sering ditanggapi dengan kurang obyektif.
Seringkali Mahrus Ali dengan berani menyalahkan hasil ijtihad guru-guru besar di kalangan Wahabi, seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Taimiyah, dan Muhammad bin Abdul Wahhab tentang apa yang mereka sampaikan bertentangan dengan keyakinan umum ummat Wahabi. Bahkan yang lebih parah lagi Mahrus Ali mengangggap bahwa al-Ruh bukan karya Ibnu Qayyim!.

Dalam buku Sesat Tanpa Sadar (hal. 95), Mahrus Ali berkata :

“Tim LBM NU Jember dalam MKB (hal. 16-17) menyitir pernyataan Ibnu Qayyim al-Jauziyah ulama besar yang biasanya tidak punya harga di kalangan mereka, sebagai berikut:

Nabi SAW telah menetapkan kepada umatnya, apabila mereka mengucapkan salam kepada ahli kubur agar mengucapkannya seperti layaknya salam yang diucapkan kepada orang yang masih hidup yang ada di hadapannya, dan ini berarti berbicara kepada orang yang mendengar dan berakal, andaikan tidak demikian, niscaya khitab ini sama dengan berbicara kepada sesuatu yang tidak ada atau tidak berjiwa. Ulama salaf sepakat tentang hal ini, dalil-dalil atsar seluruhnya mutawatir dari mereka bahwa mayyit mengetahui ziarahnya orang yang hidup, dan merasa senang dengannya. (al-Ruh, hal. 24)

Setelah menyebutkan pernyataan di atas Mahrus Ali berkomentar dalam bukunya:

”Sebagaimana disampaikan oleh Ulama Tahqiq, sangat meragukanjikalau kitab tersebut disandarkan kepada Ibnu Qayyim, bisa saja beliau mengarangnya tetapi pada waktu dalam permulaan mencari ilmu.” (Sesat Tanpa Sadar, Mahrus Ali, hal. 95)

Sebenarnya dengan perkataan itu Mahrus Ali harus mengajukan bukti bahwa kitab tesebut memang bukan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Alangkah bagusnya andaikata Mahrus Ali mau membaca literatur Ibnu Qayyim yang seperti ini dengan pandangan ingin mengetahui kebenaran.

Untuk menjawab komentar Mahrus di atas, kami akan mengutip pernyataan al-Syaikh Bakar Abdullah Abu Zaid, salah satu ulama senior wahabi, beliau berkata dalam kitab Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Hayatuhu, Atsaruhu Wa Mawariduhu tentang keabsahan nisbah kitab al-Ruh terhadap Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:

“Sudah populer di kalangan para penuntut ilmu bahwasannya kitab al-Ruh dikatakan bukan sebagai karya Ibnu Qayyim, seandainya memang itu adalah tulisan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, berarti beliau telah menulisnya sebelum menjadi murid Ibnu Taimiyah. Pernyataan inilah yang sering dibicarakan para ulama di majelis-majelis ilmu, akan tetapi saya tidak pernah mendapatkannya terbukukan dalam satu kitab, barangkali memang ada, akan tetapi belum terbaca oleh kami.” Permasalah yang timbul ini menggerakkan saya untuk mengkaji kembali serta membaca sekali lagi al-Ruh dari pertama sampai akhir, yang menghasilkan dua kesimpulan sebagai berikut:
Kitab al-Ruh murni karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, hal ini didasarkan pada beberapa alasan: Pertama, kitab ini banyak dikutip oleh beberapa ulama terkemuka dalam kitab-kitab mereka, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani. Kedua, Ibnu Qayyim mengisyaratkan akan adanya kitab ini dalam kitabnva yang lain yaitu Jala’ al-Afhamdi bab keenam, tatkala beliau menerangkan satu hadits, beliau berkata: ” Aku tulis hadits ini secara komprehensif dalam kitabku al-Ruh”. Ketiga, kitab ini mendapat apresiasi tinggi dari al-Imam Burhanuddin al-Biqa’i salah seorang murid al-Hafizh Ibnu Hajar, dengan menulis intisari kitab tersebut, dan beliau beri nama Sirr al-Ruh. Keempat, dalam kitab al-Ruh Ibnu Qayyim menyebut kitab yang lebih besar, yaitu Ma’rifah al-Ruh Wa al-Nafs, kitab ini juga beliau sebutkan dalam Jala’ al-Afham. Kelima, kalau kita betul-betul pengalaman membaca karya-karya Ibnu Qayyim serta memahami seluk-beluk bahasa yang digunakan, kita akan tahu bahwa al-Ruh merupakan tulisan Ibnu Qayyim.
Kitab al-Ruh ditulis setelah beliau berguru dengan Ibnu Taimiyah, hal ini meninjau dua alasan: Pertama, kutipan beliau akan pernyataan Ibnu Taimiyah dalam kitab tersebut, malah kitab tersebut beliau tulis setelah gurunya tersebut meninggal. Kedua, dalam urusan Aqidah beliau mengikuti konsep aqidah Ibnu Taimiyah, yaitu pembagian tauhid menjadi tiga, uluhiyyah, rububiyyah, dan asma’ wa al-sifat.

Kesimpulan dari pernyataan Syaikh Bakar Abdullah Abu Zaid sangat jelas, bahwa kitab al-Ruh adalah karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, serta ditulis setelah berguru kepada Ibnu Taimiyah. Bahkan kitab tersebut ia tulis setelah gurunya meninggal. Yang menjadii pertanyaan, apa yang melandasi pendapat Mahrus Ali bahwa kitab al-Ruh bukan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah? Apakah hanya dikarenakan kitab tersebut banyak menyebutkan hal-hal yang berseberangan dengan faham Wahabi?

Wallahu a’lam.

(Oleh: Ust. M. Idrus Ramli dalam buku “Kiai NU atau Wahabi yang Sesat Tanpa Sadar?”)

ini adalah artikel tambahan mengenai orang wahabi yang mengkafirkan ibunda rasulullah saw

Pada suatu pagi, saya duduk duduk I’tikaf lurus depan ka’bah. Tepatnya sebelah lokasi sumur zamzam dulu. Tiba tiba ada anak muda Indonesia yang menghampiri saya dan duduk disebelah saya.

Saya bertanya padanya katanya baru selesai tawaf. Akhirnya kami pun berkenalan dan saling tahu satu sama lain. Rupanya dia menuntut ilmu alias sekolah di Ma’had Masjidil Haram di lantai dua Baabul Malik Fahd. Ketika saya tanya, dia menjawab saat ini ambil jurusan Hafidz Al Qur’an disitu. Singkat kata singkat cerita, tibalah diskusi saya dengannya sebagai berikut:

Saya bertanya: ”Menurut antum, ziarah kubur itu bagaimana sih?”

Dia menjawab: ”Sunnah akhi… memang dulu nabi pernah melarangnya, namun kemudian beliau justru memerintahkan kita untuk berziarah.”

Saya bertanya: ”Bisa antum sebutkan redaksi hadits nya yang saat nabi melarangnya?” Misalnya:”Janganlah kalian berziarah kubur…!! dll?

Dia: ”Wah, afwan,,, ana gak tahu akhi… Yang ana tahu ya hadits larangan yang bersambung kemudian dengan perintah ziarah kubur itu”.

Saya bertanya: ”Apakah ada batasan dalam kandungan perintah nabi dalam ziarah kubur tersebut?”

Dia menjawab: ”Ya iyalah… bahkan ada pendapat yang mengatakan, kalimat perintah nabi untuk berziarah kubur itu tidak berlaku untuk perempuan. Artinya untuk perempuan tidak di sunnahkan berziarah, bahkan Allah SWT dan Rasulullah mengutuknya.”

Saya: ”Masya Allah… segitu nya ya?, Maaf apakah antum sependapat dengan pendapat itu?”

Dia menjawab: ”Iya !! ini lho akhi bunyi haditsnya:

لعن رسول الله زوارات القبور

Pernah dengar dan baca hadits ini khan akhi?”

Saya: Oh itu.. Iya… Alhamdulillah saya juga mengetahui hadits itu. Hadits itu adalah haditsnya Hasaan bin Tsabit. Yang dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dari jalur Faryabi. Dan juga Imam Baihaqi dalam sunan kubronya, dari jalur Sufyan Atsaury. Dan dalam kitab Zawaaid dikatakan bahwa sanadnya Hasaan bin Tsabit itu Shohih dan para rawinya itu terpercaya semua. Hadits ini juga dikeluarkan oleh imam Tirmidzi dan kata beliau “Hasan Shohih”. Juga ada yang senada dengan hadits tersebut yang diriwayatkan oleh imam Annasa’i dan Abi Dawud. Wallahu a’lam.

Dia:”Yaa begitulah akhi…

Saya: ”Apakah anda tidak pernah baca atau mendengar, sebuah hadits yang menceritakan bahwa Aisyah berziarah ke kuburan baqi’ madinah, bahkan oleh Nabi SAW di beri tahu tata caranya berziarah?”

Dia: ”Mmmm… Yang mana ya?”

Saya: ”Oh.. lewat deh… Kalau misalnya saya berziarah ke kuburannya orang kafir, boleh nggak?”

Dia menjawab: ”Ya jelas nggak boleh akhi…. Ini juga, termasuk pengecualian dari hadits perintah berziarah kubur tadi… Jadi maksud nabi, hanya mencakup kuburannya orang orang muslim akhi… Lagian ngapain antum berziarah ke kuburannya orang non muslim… hahaha… ada ada aja akhi ini…

Saya: ”Ya endaklah… saya khan cuma tanya, misalnya… Lalu, kalau boleh tahu, maaf, apakah anda termasuk orang yang berpendapat ibunda nabi Muhammad orang kafir?”

Dia menjawab: ”Iya akhi… antum kok tahu?” memang seperti itu adanya akhi…

Saya: ”Hmmm… Lantas kenapa Allah kok mengijinkan Nabi SAW menziarahi kuburan ibundanya tersebut? Bukankah tadi antum mengatakan, kita tidak boleh berziarah ke kuburannya orang non muslim (Kafir)?”

Dia: ”Masak seperti itu akhi?” Setahu saya, Nabi SAW tidak di ijinkan oleh Allah untuk memohon ampunan atas ibunya itu, bagaimana menurut antum ini akhi?”


“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian” (HR. Muslim : 3/65). – red.

Saya: ”Ya benar memang begitu bunyi hadits alenia pertamanya… Nabi memang tidak di ijinkan oleh Allah SAW untuk memohonkan ampunanNya atas ibunya.. Namun bunyi alenia kedua hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi SAW cukup di ijinkan menziarahinya saja.

Dia: ”Lantas apa artinya semua itu? Nabi tidak boleh memohonkan ampunanNya atasnya?”

Saya: ”Ya jelaslah… Allah tidak mengijinkannya… Itu maskudnya tidak perlu !! dan tidak usah !!

artinya, ibundanya Nabi SAW tidak perlu di mohonkan ampunan, karena beliau tidak punya dosa dan telah menjadi penghuni surga yang abadi. Lantas bagaimana dengan pertanyaan saya tadi?” Mohon di jawab akhi !!

Dia: ”Ada haditsnya nggak?”

Saya: ”Ada akhi… begini bunyinya kalau nggak salah:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور, فزوروها فقد اذن لمحمد فى زيارة قبر امه.

“Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah!” Hadits riwayat imam Muslim dan imam Tirmidzi.

Bagimana tanggapan akhi?”

Dia: ”Wah… maaf, kayaknya saya tidak bisa meneruskan dialog kita ini akhi… saya harus pamit dulu… Assalamu’alaikum…

Saya: ”Wa ‘alaikumus salaam warohmatullahi wabarokatuh…

*twing ^^

Oleh: Kaheel Baba Naheel. Bakkah, 2 Mei 2009


Dari dialog tersebut maka terlihat sekali kalau wahabi sangat tergesa-gesa mengatakan bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah kafir. Wal ‘iyadzubillah… Inilah kesalahan wahabi. Mereka tidak pernah melihat dalil-dalil lain yang lebih kuat dan lebih qoth’i. Sudahlah cara mereka sangat tekstual dalam memahami nash ditambah pula tak mau melihat dan menggabungkan dalil-dalil lain yang ada. Maka hancurlah istimbath mereka dalam segala bidang, baik fiqih, tauhid maupun tasawuf.

Mengenai hadits di atas, mari kita dengar apa kata Imam Suyuthi:

“ Adapun hadits tersebut maka tidak mesti diambil daripadanya hukum kafir berdasarkan dalil bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga ketika di awal-awal Islam dilarang untuk menyolatkan dan mengistighfarkan orang mukmin yang ada hutangnya tapi belum dilunaskan karena istighfar Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan dijawab Allah dengan segera, maka siapa yang diistighfarkan Rasul dibelakang doanya akan sampailah kepada derajat yang mulia di surga, sementara orang yang berhutang itu tertahan pada maqomnya sampai dilunaskan hutangnya sebagaimana yang ada dalam hadits (jiwa setiap mukmin terkatung dengan hutangnya sampai hutangnya itu dilunaskan). Maka seperti itu pulalah ibu Nabi alaiha salam bersamaan dengan posisinya sebagi seorang wanita yang tak pernah menyembah berhala, maka beliaupun tertahan dari surga di dalam barzakh ; karena ada sesuatu yang lain diluar kufur.”[At-Ta’zhim wal Minnah Suyuthi hal 29].

Kemudian mari kita simak apa kata Al-Allamah Al Arif Billah Syaikh Zaki Ibrahim:

Sesungguhnya ahlul bait Nabi tak akan masuk ke dalam neraka dan ibunya adalah daripada ahlul bait Nabi sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Aku memohon kepada Allah supaya tidak ada satupun ahlul baitku yang masuk ke dalam neraka, maka Allah mengabulkan permhonanku.” Dan begitupula yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ibnu Abbas tentang penafsiran ayat: wa la saufa yu’tika Rabbuka fa tardha; dan daripada keridhoan Muhammad adalah tidak ada satu daripada ahlul baitnya yang masuk ke dalam neraka. Maka memintakan ampun kepada ibunya dalam kondisi yang seperti ini juga merupakan suatu hal yang sia-sia dan percuma, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam disucikan Allah dari hal yang percuma dan sia-sia.[‘Ismatun Nabi Zaki Ibrahim hal.96]

Wallahu a’lam bishshowab


dengan membaca dan merenungi artikel artikel seperti diatas anda akan lebih faham bahwa wahabi itu adalah aliran sesat dan menyesatkan,na'udzubillahi min dzalik.
semoga artikel ini bermanfaat
read more

mudahnya mematahkan faham sesat wahabi

mudahnya mematahkan faham sesat wahabi adalah judul postingan yang sangat pas dan menarik
karna memang begitulah keadaannya yang sebenar benarnya.
postingan saya mantan kyai nu dan kaum wahabi tidak bisa menjawab sampai saat ini ternyata tidak bisa dibantah oleh semua golongan wahabi sesat.
padahal saya sudah keliling membagi link kesitus situs para ustadz wahabi dan situs situs besar kaum wahabi,seperti:
muslim dot or dot id
muslimah dot or dot id
kaahin dot wrod****dot com
mantankyainu dot blog****dot com dan situs situs yang lain.
saya rasa mereka sangat faham kalau dalil dalil mereka memang tidak bisa digunakan karna akan membahayakan mereka sendiri.
namun saya sangat heran kenapa mereka masih tidak membuka mata hati mereka?
apakah mereka sudah termasuk dalam katagori  صم بكم عمي فهم لايرجعون
andai mereka tidak sampai sesat mungkin umat islam ini akan lebih kuat lagi
saya secara pribadi juga mengagumi tindakan mereka yang sangat giat menyiarkan faham mereka,namun sayangnya faham yang mereka siarkan adalah faham sesat,seandainya mereka bisa kembali menerima cahaya kebenaran,sungguh itu sangat menguntungkan kepada agama islam yang tercinta ini.
buat antum para ikhwan seagama islam ahlus sunnah wal jama'ah,teruslah kalian perjuangkan i'tiqadiyah dan syari'ah islam tanpa kenal lelah,janganlah kalah dengan perjuangan kaum khawarij itu!.
wassalamualaikum.wr.wb.
read more

mantan kyai nu dan kaum wahabi tidak bisa menjawab

sampai saat ini ternyata kaum wahabi tidak ada satupun yang berani berhujjah,padahal saya tidak akan berhujjah untuk menang,akan tetapi hanya untuk mencari kebenaran.
apalagi si mantan kyai nu,dia mungkin sudah botak kepalanya karna mendapat pertanyaan dari saya,padahal pertanyaan saya hanya hal yang sangat gampang
menurut saya,mantan kyai nu dan para tokoh salafi/wahabi sangat bodoh dan benar benar pengecut
pada pertanyaan anak kecil saja tidak bisa menjawab.
bagi yang ingin tahu pertanyaan saya kepada mantan kyai nu klik di (pertanyaan saya kepada mantan kyai nu)
terima kasih sudah berkunjung dan jangan segan meninggalkan komentar,saya mengharap masukan dari anda.
read more

pertanyaan saya kepada mantan kyai nu

inilah pertanyaan saya kepada mantan kyai nu,namun sampai saat ini dia tidak menjawabnya.
saya sudah beberapa kali lihat blog ini dan sekarang saya mulai akan berkomentar,dan insya allah semua komentar saya akan saya bahas juga di blog baru saya.

pertanyaan saya yg pertama:

pak mantan nu sangat menghujat bid'ah,tapi mengapa anda sendiri melakukan bid'ah?

kalau anda juga ahlulbid'ah knp harus menghujat bid'ah?

menurut saya banyak hal yg menunjukkan bahwa anda bid'ah

1. anda pernah sekolah di arab,

sekolah itu tidak ada dimasa rasulullah dan itu juga termasuk urusan agama.

anda juga membaca kitab dan membuat buku

rasulullah tidak membaca kitab dan tidak membuat buku.

ushul menurut anda bid'ah begitu juga mengartikan atau memahami al qur'an dan al hadits dengan akal,tapi anda sendiri menggunakan akal akalan.

dalil saya diambil dari postingan anda sendiri yaitu:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Berhatilah terhadap perkara baru. Sesungguhnya tiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat.

mohon anda jawab disini.saya tidak akan mau di oper kelink mana lagi.

akan saya buktikan bahwa anda dan semua orang islam disaat sekarang ini sama2 ahlul bid'ah.
inilah pertanyaan saya,yang saya lontar kepada mantan kyai nu,namun sampai sekarang di dan semua tokoh wahabi tidak ada yang bisa menjawabnya.
read more